thewallofcar.info Berita Unik

Berita Utama

Coklat Monggo, Buah Tangan Khas Jogja

Selain bakpia, sejak 2005 cokelat Monggo telah masuk daftar oleh-oleh favorit para wisatawan setelah menyusuri Kota Yogyakarta. Olahan...

Peristiwa

Showbiz

Foto

Video

Senin, 02 Maret 2020

Coklat Monggo, Buah Tangan Khas Jogja



Selain bakpia, sejak 2005 cokelat Monggo telah masuk daftar oleh-oleh favorit para wisatawan setelah menyusuri Kota Yogyakarta. Olahan cokelat yang dicipatakan oleh Thierry Detournay, warga negara asli Belgia itu memberi pilihan menarik bagi wisatawan yang bosan dengan oleh-oleh Kota Gudeg yang itu-itu saja.


Coklat Monggo mulai populer dikarenakan kemasannya yang menarik, elegan dan klasik. Kemasannya didesain seperti filosofi Kota Jogja yang berhati nyaman. Bungkusnya dibuat dari karton cokelat yang sejuk dipandang mata dan bergambar karakter wayang yang kental akan budaya. Cokelat Monggo juga cocok dibuat oleh-oleh lantaran punya beragam varian rasa, mulai yang  biasa hingga tak lazim.


Beragam varian cokelat Monggo bisa langsung didapatkan para wisatawan di pabrik pembuatan Coklat Monggo. Lokasinya berada di Dalem KG III/978 RT 43 RW 10, Purbayan Kotagede, Yogyakarta. Dapat dilihat dari patokannya adalah Makam Raja-raja Mataram Kota Gede. Pabrik cokelat ini letaknya tidak terlalu dari makam legendaris tersebut. Kurang lebih 300 meter setelah makam raja-raja Anda akan  menjumpai plang besi berwarna cokelat yang mengarahkan menuju menuju lokasi pabrik. Perjalanan menuju pabrik coklat Monggo pengunjung harus melewati jalan gang sempit dan hanya muat dilalui sepeda motor. Wisatawan ataupun tamu yang datang membawa mobil bisa memarkirkan kendaraannya di sekitar makam raja-raja atau Pasar Kota Gede. Lokasi yang terletak di sudut kota, karena hal ini juga membuat pabrik Cokelat Monggo menjadi minim polusi suara yang di hasilkan akibat kendaraan kendaraan yang berlalu lalang. Suasananya pun nyaman apalagi di tambah dengan desain pabrik yang mengangkat konsep rumah kejawen.


Cokelat Monggo merupakan cokelat asli buatan lokal dari Jogja. Sejarah awal cokelat Monggo diawali saat seorang pria asal Belgia yang bernama Thierry Detournay megunjungi Jogja pada tahun 2001. Pria tersebut merasa kecewa dengan rasa cokelat yang ada di Indonesia, dari situlah dia terpikirkan ide untuk membuat sendiri cokelat dengan cita rasa Belgia dengan modal yang seadanya. Pria penyuka cokelat ini lalu meminta  teman-temannya di Indonesia untuk mencoba cokelat buatannya. Tidak terduga, dia mendapat respon positif dari teman-temannya dan membuat pria ini semangat memproduksi cokelat ldalam jumlah banyak dan mencoba menjualnnya di sekitaran kampus UGM mengendarai vespa tua berwarna pink. Hal itu dia lakukan hanya untuk coba-coba semata. Sekitar tahun 2005, muncul ide untuk membuka toko. Kemudian berlanjut dibuatlah sebuah CV. Anugerah Mulia yang khusus untuk memproduksi cokelat buatannya.


Kata "Monggo" sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang memiliki arti "silahkan" yang selalu digunakan oleh masyarakat Jawa untuk mempersilahkan jika ada tamu ataupun pada saat lewat di depan orang. Kata "Monggo" dapat menggambarkan budaya Jawa, khususnya Jogja sehingga nama tersebut akhirnya dipilih sebagai nama produk Cokelat Monggo. Cokelat Monggo dikemas secara unik yaitu menggunakan kertas daur ulang dan telah bersertifikat FSC. Kemasannya pun cukupe elegan dengan menampilkan ciri khas kota Jogja yang masih kental akan nilai-nilai budayanya. Dalam proses produksinya Cokelat Monggo ini minim menggunakan plastik. Sehingga ramah lingkungan namun tetap mengedepankan nilai dan kualitasnya.
Beragam macam varian cokelat Monggo dipajang di etalase. Pengunjung bisa mencicipinya melalui tester. Tiap ukuran punya rasa yang berbeda-beda. Untuk harganya pun tiap-tiap ukuran tentu berbeda:
  •  Cokelat dengan ukuran 40 gram = Rp 20.000
  • 80 gram dibanderol Rp 39 ribu, dan 100 gram = Rp 47.000
  • Paket berisi sepuluh batang cokelat Monggo 40 gram = Rp 235.000
  • Paket berisi tiga cokelat berukuran 80 gram =Rp 139.000

Intermezzo

Travel

Teknologi